Selasa, 05 Februari 2013

Konsep Penilaian Otentik dalam KTSP



oleh: Ketut Ngurah Artawan, M.Pd
Pendahuluan
            Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang dikembangkan dari kurikulum nasional yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi dan kemampuan dari setiap sekolah. Kurikulum ini jika dilihat substansi pokok dan basis pengembangannya, tidak jauh berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan juga dirancang berbasis kompetensi dengan tujuan agar peserta didik mempunyai kompetensi sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Keberhasilan KTSP di lembaga pendidikan terutama di Sekolah Menengah Pertama (SMP) terutama terletak pada bagaimana tuntutan dari kurikulum dapat terpentaskan di dalam kelas. Salah satu tuntutan
yang tercantum dalam kurikulum adalah dapat terlaksananya bagian akhir dari proses pembelajaran yaitu adanya penilaian hasil belajar. Implementasi PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan membawa implikasi terhadap system penilaian, termasuk konsep dan teknik penilaian yang dilaksanakan di kelas. Penilaian kelas merupakan penilaian internal yang dilaksanakan oleh pendidik dalam hal ini guru di kelas atas nama satuan pendidikan untuk menilai kompetensi peserta didik pada saat dan akhir pembelajaran. Sistem penilaian hasil belajar yang diterapkan dalam kurikulum sekolah adalah system penilaian otentik atau lebih dikenal dengan nama asesmen otentik. Ini merupakan salah satu hal yang paling mendasar yang tercantum dalam KTSP untuk mengetahui sejauh mana peserta didik dapat menguasai kompetensi dasar yang sudah ditetapkan dari setiap mata pelajaran. Penilaian otentik ini harus dipahami secara mendalam oleh guru-guru mengingat bahwa setiap pengukuran kompetensi peserta didik tidak cukup hanya dengan tes objektif saja, karena tes tersebut tidak dapat menunjukkan seluruh kompetensi yang dikuasai siswa.
Penilaian otentik merupakan penilaian yang secara langsung bermakna, dalam arti bahwa apa yang dinilai adalah merupakan sesuatu yang benar-benar diperlukan siswa dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Manfaat Penilaian
a.       Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
b.      Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik dalam mencapai kompetensi.
c.       Untuk umpan balik bagi pendidik dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan dan sumber belajar yang digunakan.
d.      Untuk masukan bagi pendidik guna merancang kegiatan belajar.
e.       Untuk memberikan informasi bagi orang tua dan komite satuan pendidikan tentang efektivitas pendidikan.
f.       Untuk memberi umpan balik bagi pengambil kebijakan dalam mempertimbangkan konsep penilaian kelas yang digunakan.

Fungsi Penilaian
a.       Menggambarkan sejauh mana peserta didik telah menguasai suatu kompetensi.
b.      Mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami kemampuan dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian sebagai bimbingan.
c.       Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu pendidkk menentukan apakah seseorang perlu mengikuti remidial atau pengayaan.
d.      Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang sedang berlangsung guna perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
e.       Sebagai kontrol bagi pendidik dan satuan pendidikan tentang kemajuan perkembangan peserta didik.

Penilaian Otentik
            Penilaian otentik adalah penilaian yang secara langsung bermakna, dalam arti bahwa apa yang dinilai memang demikian yang sesungguhnya terjadi dan dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Jadi penilaian otentik menilai kemampuan riil siswa dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan penilaian otentik sangat erat hubungannya dengan kompetensi. Dalam KTSP dikenal istilah Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ditunjukkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Jelas dari pengertian tersebut bahwa kompetensi tidak bisa diasumsikan telah terbentuk pada siswa , melainkan harus benar-benar tertunjukkan dalam suatu kinerja.
            Penilaian otentik mengharuskan pembelajaran berpusat pada siswa sebab pelaku belajar adalah siswa.
Sifat-sifat penilaian otentik:
  1. Berbasis kompetensi yaitu penilaian yang mampu memantau kompetensi siswa
  2. Individual, dapat secara langsung mengukur kemampuan individu
  3. Berpusat pada siswa, karena direncanakan, dilakukan dan dinilai oleh siswa sendiri, mengungkapkan seoptimal mungkin kelebihan individu dan juga kekurangannya
  4. Tak terstruktur dan open-ended, penyelesaian tugas-tugas otentik tidak bersifat uniformed dan klasikal. Juga kinerja yang dihasilkan tidak harus sama antar individu di suatu kelompok atau kelas.
  5. Terintegrasi dengan proses pembelajaran, sehingga siswa tidak selalu dalam situasi tes yang menegangkan
  6. On-going atau berkelanjutan, oleh karena itu penilaian harus secara langsung dilaksanakan pada saat proses pembelajaran

Jenis-jenis penilaian otentik
  1. Penilaian Kinerja
  2. Evaluasi Diri
  3. Esai
  4. Proyek
  5. Portofolio

Teknik Penilaian Otentik

Untuk mengumpulkan informasi atau data tentang kemajuan belajar peserta didik dapat dilakukan dengan beragam teknik, baik berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik mengumpulkan informasi atsu data tersebut pada persiapan adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik terhadap pencapaian standar kopetensi dasar. Penilaian satu kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian hasil belajar, baik berupa domain kognitif, afektif, maupun psikomotor. Berdasarkan indikator-indikator tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan data tentang profil peserta didik, yaitu: penilaian, unjuk kerja/perbuatan, penilaian tertulis dan lisan, penilaian proyek, penilaian produk, penilaian portofolio, dan penilaian diri.

  1. Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakuan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai indikator pecapaian hasil belajar suatu kopetensi dasar yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktek di laboratorium, prakter sholat, praktek olahraga bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/deklamsi dan lain-lain. Cara penilaiyan ini dianggap lebih otentik dari pada tes tertulis karena apa yang dilihat lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.
Penilaian unjuk kerja dilakukan melalui pengamatan dan dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampaua tertentu. Untuk menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya dilakukan pengmatan atau observasi berbicara yang beragam, seperti: diskusi dalam kelompok kecil, berpidato, bercerita, dan melakukan wawancara. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik kan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat  atau instrumen berikut:
            Daftar Cek (Check-list )
Pengambilan data penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik ). Aspek yang akan dinilai dicantumkan di dalam format penilaian unjuk kerja. Selama melakukan pengamatan unjuk kerja peserta didik, guru memberikan tanda (√) pada setiap aspek yang dinilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar salah, dapat diamati tidak diamati. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar. Berikut contoh daftar cek. 
No
Nama
Aspek yang dinilai
Skor
Nilai
Aspek A
Aspek B
Aspek C
Aspek D   dst......
Baik
Tidak baik
Baik
Tidak baik
Baik
Tidak baik
Baik
Tidak baik
1











2











3...












Contoh rating skala
No
Nama
Aspek A
Aspek B
Aspek C

Jml
Nilai
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1













2













3...



























 
  1. Penilaian Tertulis
Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Penilaian jenis ini cenderung dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta didik berkaitan dengan konsep, prosedur dan aturan-aturan. Tes tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalau merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seprti membri tanda, mewarnai, menggambar dll.
Teknik penilaian
    1. soal dengan memilih jawaban
·         pilihan ganda
·         dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)
·         menjodohkan
    1. soal dengan mensuplai jawaban
·         isian singkat atau melengkapi
·         uraian terbatas
·         uraian objektif / non objektif
·         uraian terstruktur / non terstruktur
dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar-salah, isian singkat dan menjodohkan merupakan aat yang hanya menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar, maka peserta didik akan cenderung menerka jawaban. Hal ini menimbulkan kecendrungan peserta didik tidak belajar memahami pelajaran, tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Selain itu pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang cukupuntuk dijadikan umpan balik guna mendiagnosis kelemahan dan kekuatan peserta didik atau memodifikasi kegiatan belajar.
            Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari. Peserta didik mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kompetensi, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis dan menyimpulkan. Kelemahan alat ini adalah cakupan materi yang ditanyakan terbatas.
Contoh tes lisan biologi
1. Sebutkan 10 bagian saluran pencernaan secara berurutan!
Kriteria: setiap jawaban benar diberi skor 1
No
Nama
Skor Perolehan
Jml
Nilai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

























































Contoh bhs inggris
1. Look at the picture, mention 10 things you find in the picture!
Criteria dan bentuk tabel sama dengan di atas

  1. Penilaian Proyek    
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode / waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.
Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyeledikan dan kemampuan menginformasikan sesuatu dengan jelas.
Teknik penilaian proyek.
            Penilaian proyek dapat dilakukan dari perencanaan, pengerjaan sampai hasil akhir proyek, bisa juga disajikan dalam bentuk poster. Instrument penilaian yang digunakan dapat berupa daftar cek ataupun skala penilaian.
Contoh instrument penilaian proyek
No
Aspek
Skor
1
Perencanaan
a. Persiapan
b. Rumusan Judul

2
Pelaksanaan
a. Sistimatika penulisan
b. Keakuratan sumber data
c. Kuantitas sumber data
d. Analisis data
e. Penarikan simpulan

3
Laporan proyek
a. Penampilan
b. Presentasi / penguasaan materi

Contoh kasus
1)      Penyusunan paper tentang perkembangan teknologi komputer
2)      Pengumpulan data-data tertentu seperti jenis pekerjaan orang tua siswa di SMP N 1 Sidemen kemudian disajikan dalam bentuk grafik
3)      Penyusunan karya ilmiah
4)      Pembuatan resume
5)      Pengukuran luas bangunan dan luas sekolah dengan perhitungan prosentase
6)      Dsb.

      4.   Penilaian Portofolio
      penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informsi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didikdalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik yang dikumpulkan dari waktu ke waktu dari proses pembelajaran dan membandingkan hasil setiap karya tersebut. Dan pada setiap hasil karya peserta didik diungkapkan kekuatan dan kelemahannya, sehingga peserta didikmeiliki catatan-catatan yang dapat memperbaiki hasil karyanya. Hasil karya ini dapat berupa karangan, puisi, surat, komposisi, musik dsb.   
Dari uraian di atas dapat kita tarik benang merahnya tentang penilaian otentik, bahwa penilaian yang sedemikian adanya dan ada pada keseharian siswa. Penilaian otentik merupakan penilaian berbasis kompetensi, individual, orientasinya berfokus pada siswa dan tak terstruktur. Dengan penerapan penilaian otentik ini diharapkan guru dapat mengetahui kmampuan siswa secara nyata pada semua aspek kognitif, afektif dan psikomotor sehingga dapat memberikan apresiasi yang tepat terhadap siswa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar